Waktu dan Persahabatan

Berkisah tentang sahabat yang lama tak bertemu hanya karena terbatas jarak yang kurang lebih 32 KM. Kesibukan yang bertubi-tubi telah merenggut waktunya untuk saudaranya. Hal yang wajar memang ketika telah menginjakan kaki pada ujung tanduk pembelajaran. Pekan demi pekan mencoba untuk terus menanti sebuah kata pertemuan, namun hanya angin malam yang berseliweran pada sebuah benda kotak modern yang biasa dipanggil "Handphone".
Sebuah coretan pena pertanda akhir dari masa pembelajaran menjadi momok mengerikan hampir pada semua yang berada dalam sebuah bangunan dengan berbagai macam orang didalamnya dan mempelajari sesuatu (Universitas). Entah apa yang dipikirkan. Terkadang terdengar kabar, sang mister warna warni berangka dengan banyak bulatan didalamnya enggan mampir pada sebuah kantong kulit berwarna hitam yang telah dipenuhi bon dan kartu. Lagi.. lagi.. hanya angin malam yang dapat dirasakan.
Ketika darah telah mendidih dan pitam telah dinaikkan, diputuskan sudah untuk "membawanya secara paksa". 32 KM telah menjadi 32 M, berjibaku dengan kokokan ayam dan berlomba dengan Surya, sembari menikmati lambaian ilalang, dengan desir angin yang menerpa tubuh. Kuda besi yang ditunggangi melesat seakan tak ada portal-portal bergaris kuning dan putih serta sang "penegak keadilan".
Qadarullah, istana sang putri nun jauh disana dapat ditemui, walau harus bersusah payah mencari. 

Seketika, singa yang lelah menjabarkan perjalanan menembus batasnya. Tarik ulur dalam sebuah komitmen, memang cukup menantang. Namun, dapat menjadi sebuah kado terindah yaitu pengalaman.

Kembali berdiri bersama, duduk beriringan sama rata. mengulik kembali cerita usang yang telah terkubur laporan tebal kehidupan. Bersama berkisah tentang waktu. Waktu kini, waktu dulu dan waktu yang akan datang.



Indaralaya, 5 Februari 2018
Ditengah kegalauan menemukan jadwal Diskusi Proposal

Comments

Popular posts from this blog

Nano-nano Kuliahku (Masa Melatih Diri Bersama Orang Baru)

Jeruk Nipis

Apakah Indonesia Sudah Merdeka?