Dream 4.O

Sebuah harapan untuk menyelesaikan semua tugas diwaktu yang tepat dan disaat yang tepat. Ambisi, rencana, impian, do'a dan tekad yang telah tersusun rapi seketika runtuh tak bersisa. Lalu.. Mampukah semua tetap terwujud?

0.1
Berganti masa, berganti cerita. Waktu telah menunjukkan untuk membuka gerbang selanjutnya. Masa menjadi siswa kini harus diakhiri. Menambahkan kata 'Maha' didepannya dengan segala tanggung jawab yang katanya "Tak seindah di FTV".
Seorang gadis yang tak pernah jauh dari peraduan, harus menempuh jarak melintas selat ke tanah yabg tak pernah dijajakinya demi mewujudkan mimpi yang sebenarnya 'bukan mimpinya'. Berbekal 2 nasihat yang selalu diingat dari 2 malaikat yang diturunkan di bumi " jangan lupa sholat dan belajar", ia mantap meletakkan mimpi di negeri yang berjargon "wong kito galo".

-Bukan Mimpinya-

Pergi merantau telah menjadi tekadnya sejak kecil, mencoba mandiri dan melihat dunia dari sudut pandang berbeda menjadi salah satu alasannya untuk menambahkan gelar 'Maha' didepan kata siswa. Namun, keputusan ini bukanlah seberat kapas, disaat ia membangun mimpinya hingga ke angkasa, ia harus menerima kenyataan bahwa nasibnya berada di dalam bumi. Sebuah keputusan yang amat berat untuk memilih dan itu membuatnya berat melangkah. Apa daya, keputusan harus dibuat cepat, semua risiko harus ditanggung dengan cermat dan semua recana harus dibuat dengan tepat.
Panggilan dari bumi akhirnya diterima setelah mencoba merayu angkasa namun tak berbalas.
2014 gadis ini menyandang status sebagai Mahasiswi Pertanian.

-Kawan Dalam Diam-

Memutuskan untuk tinggal di asrama karena permasalahan klise semua manusia yaitu biaya, menjadi pilihannya. Ditempatkan di satu kamar dengan seorang 'ayuk' (dalam bahasa Melayu artinya kakak perempuan) tingkat yang tentunya lebih senior dan berpengalaman dalam dunia 'per-Maha-an' diharapkan menjadi sebuah titik awal yang baik untuk mengenal dunia baru ini. Budaya negeri baru dengan manusia-manusia baru, membuatnya harus beradaptasi dengan baik, terlebih lagi ini adalah kali pertamanya meninggalkan tempat peraduannya.
Berkenalan dengan canggung tanpa tau bagaimana cara berekspresi dengan baik membuatnya hanya menjadi "Kawan Dalam Diam".
Permasalahan pun mulai timbul, komunikasi yang hanya tercipta dari kesunyian membuat kedua manusia ini sulit untuk memahami. Disatu sisi sang adik tingkat bingung untuk mengekspresikan segala kata dan rasa, disisi lain sang ayuk tingkat hanya mampu menerka dan menghilangkan lara.
Hidup masing-masing menjadi pilihan terbaik kala itu. Tak peduli satu sama lain, berpura-pura tak melihat satu sama lain. Hingga akhirnya waktu pun terus berjalan dan mereka memutuskan untuk berpisah.
Sebuah drama kehidupan yang tak pernah disangka, namun nyata adanya.

- Pacaran Dengan Laporan-

Salah satu kebiasaan unique mahasiswa adalah menghabiskan malam minggu dan akhir pekan dengan tumpukkan tugas. Bergaya sok rajin dengan tugas, menuntut mau tak mau harus dikerjakan  bagaimana pun caranya.
Waktu yang dahulu mampu dihabiskan untuk nonton televisi dan tidur kini terkikis oleh tumpukan laporan yang selalu hadir disetiap waktu, keadaan, kondisi dan situasi. Tak peduli ada uang atau tidak, ada waktu atau tidak, sehat atau pun sakit, laporan akan selalu menjadi teman setia. Shock culture hampir saja terjadi, namun dengan sigap mampu teratasi.
Fix dalam waktu 1 tahun kegiatan rutin akhir pekan adalah "Berpacaran Dengan Laporan".

-Organisasi Menguras Emosi-

Tekad mengasah softskill sebagai suplement tambahan membuat organisasi menjadi salah satu pilihan untuk mengembangkan diri. Hampir semua organisasi menjadi sasaran untuk mengekspresikan dari baik internal maupun internal, mulai dari Lembaga Keagamaan hingga Lembaga Perpolitikan.
Bertemu, bertatap dan berinteraksi dengan berbagai watak, sikap, sifat, otak, dan pribadi yg majemuk membuat cakrawala diri sedikit demi sedikit semakin meluas.
Berawal dari alasan pribadi dan paksaan dari orang yg dihormati, masuk kedalam organisasi sudah menjadikan diri tercebur dalam dalan sebuah interaksi.
Dalam sebuah interaksi yg hadir dalam kemajemukan, akan menghasilkan kemajemukan pula. Perbedaan ide tak mungkin terelakkan. Pertentangan hati dan pikiran menjadi bumbu-bumbu dalam sebuah interaksi. Emosi, kesabaran, ketenangan, keluasan hati tentunya harus selalu dihadirkan.
Perdebatan akan selalu hadir. Beda pendapat akan selalu muncul. Dan hanya hati yg tenang dan akal yg sehat yg mampu menenangkan gelombang.
Karena, sungguh pelaut yg ulung tidak hadir dari laut yg tenang.

Comments

Popular posts from this blog

Nano-nano Kuliahku (Masa Melatih Diri Bersama Orang Baru)

Jeruk Nipis

Apakah Indonesia Sudah Merdeka?