Sahabat dan Ladang Amal yang Terluka
Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh..
Segala puji bagi Allah yang telah megirimkan berhaktare-hektare ladang kebaikan bagi umat manusia. Yang telah menjadikan manusia saru sama lain berbeda sehingga kita dapat saling mengenal dan melengkapi serta mengingatkan satu sama lain. Manciptakan dirimu Sahabat-sahabatku untuk mengisi kekosongan dalam hidupku walau Maaf hanya luka, duka, dan air mata yang dapat kau bawa.
Kutuliskan ini dalam keadaan hati yang terluka, terlepas segala senyum dan tawa yang terbang bersama luka dan air mata.
Mungkin memang ini semua kesalahanku. Aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Hanya berbalut luka kutinggalkan ia di pojokan jendela dusta.
Tak pernah kupungkiri bahwa diriku adalah makhluk yang hina, yang selalu kecewa walaupun diiringi tawa.
Entahlah, siapa aku..? Hanya seorang manusia lemah, bodoh, tak berdaya yang hidupnya pinjaman dari Sang Maha Pencipta. Setegar karangkah..? Betapa rapuhnya saat diterjang ombak kehidupan. Namun, sungguh bodoh sekali dirimu melepaskan semua sahabat-sahabatmu. Kau tak akan pernah menjadi seperti ini tanpa sahabat-sahabatmu, ingat hal itu. Merekalah ladang amalmu. Kayakah engkau? Sehingga dengan ringannya menerbangkan mereka..? Siapa ynag nanti akan membelamu..? Dirimu..? Bahkan kau tidak pernah sekalipun bisa menjaga dirimu dengan baik. Orang tuamu..? Seberapa tumpuk gunung kesalahan yang telah kau lakukan kepadanya..? Rabbmu..? Tak sadarkah engakau bahwa setiap detik selalu saja bertambah dosa-dosamu..? Lalu, siapakah yang akan membelamu kelak..??
Perbuatan bodoh.. Ya, itulah perbuatan terbodoh yang aku lakukan. Melepaskan sahabat-sahabatku, bakan dengan kebaikan tetapi malah mengirinya dengan air mata. Apakah aku bisa menariknya kembali kesisiku..? Entahlah...
Apakah aku harus mencari sahabat yang lain..? Namun, aku begitu trauma untuk mengulang kisah yang sama. Apakah aku harus membiarkan diriku hidup seperti ini..? Tidak... biarkan aku menjadi seseorang yang lebih dan lebih baik lagi. Mungkin suatu saat aku akan menemukan siapakah aku dan siapakah sahabatku. Mungkin hanya kata MAAF untuk semua sahabat-sahabatku yang selalu tersakiti dengan tingkahku. Tak pernah ada dalam kamusku kutuliskan kata “Mantan” untuk sahabat-sahabatku.
Semoga Allah selalu meridhoi langkah kita, sahabat..
Tetaplah menjadi hambaNYA yang tak pernah lelah untuk mencoba mengenalNYA..
Melngkah bersamamu menuju Syurganya adalah impian terbesarku,sahabatku.
Segala puji bagi Allah yang telah megirimkan berhaktare-hektare ladang kebaikan bagi umat manusia. Yang telah menjadikan manusia saru sama lain berbeda sehingga kita dapat saling mengenal dan melengkapi serta mengingatkan satu sama lain. Manciptakan dirimu Sahabat-sahabatku untuk mengisi kekosongan dalam hidupku walau Maaf hanya luka, duka, dan air mata yang dapat kau bawa.
Kutuliskan ini dalam keadaan hati yang terluka, terlepas segala senyum dan tawa yang terbang bersama luka dan air mata.
Mungkin memang ini semua kesalahanku. Aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik. Hanya berbalut luka kutinggalkan ia di pojokan jendela dusta.
Tak pernah kupungkiri bahwa diriku adalah makhluk yang hina, yang selalu kecewa walaupun diiringi tawa.
Entahlah, siapa aku..? Hanya seorang manusia lemah, bodoh, tak berdaya yang hidupnya pinjaman dari Sang Maha Pencipta. Setegar karangkah..? Betapa rapuhnya saat diterjang ombak kehidupan. Namun, sungguh bodoh sekali dirimu melepaskan semua sahabat-sahabatmu. Kau tak akan pernah menjadi seperti ini tanpa sahabat-sahabatmu, ingat hal itu. Merekalah ladang amalmu. Kayakah engkau? Sehingga dengan ringannya menerbangkan mereka..? Siapa ynag nanti akan membelamu..? Dirimu..? Bahkan kau tidak pernah sekalipun bisa menjaga dirimu dengan baik. Orang tuamu..? Seberapa tumpuk gunung kesalahan yang telah kau lakukan kepadanya..? Rabbmu..? Tak sadarkah engakau bahwa setiap detik selalu saja bertambah dosa-dosamu..? Lalu, siapakah yang akan membelamu kelak..??
Perbuatan bodoh.. Ya, itulah perbuatan terbodoh yang aku lakukan. Melepaskan sahabat-sahabatku, bakan dengan kebaikan tetapi malah mengirinya dengan air mata. Apakah aku bisa menariknya kembali kesisiku..? Entahlah...
Apakah aku harus mencari sahabat yang lain..? Namun, aku begitu trauma untuk mengulang kisah yang sama. Apakah aku harus membiarkan diriku hidup seperti ini..? Tidak... biarkan aku menjadi seseorang yang lebih dan lebih baik lagi. Mungkin suatu saat aku akan menemukan siapakah aku dan siapakah sahabatku. Mungkin hanya kata MAAF untuk semua sahabat-sahabatku yang selalu tersakiti dengan tingkahku. Tak pernah ada dalam kamusku kutuliskan kata “Mantan” untuk sahabat-sahabatku.
Semoga Allah selalu meridhoi langkah kita, sahabat..
Tetaplah menjadi hambaNYA yang tak pernah lelah untuk mencoba mengenalNYA..
Melngkah bersamamu menuju Syurganya adalah impian terbesarku,sahabatku.
Comments
Post a Comment