This is My Short Story "Mistar Sang Pak Guru"
Mistar Sang Pak
Guru
“Nak,maafin bapak ya!”, itulah kata-kata yang sering
diucapkan Pak Cahyo setelah aku dan teman-temanku selesai belajar. Sambil
mengusap kepala kami satu persatu Pak Cahyo selalu mengatakan kata-kata itu.
Perkenalkan namaku Nazwatul Annisa, saat ini aku duduk di kelas 3 SMA. Saat ini
mungkin adalah jenjang akhirku berperan sebagai seorang siswa. Cukup sedih jika
mengingat sebentar lagi aku akan meninggalkan bangku sekolahan dan berpindah
menjadi seorang mahasiswa. Banyak sekali
cerita-cerita dimasa sekolah yang tidak bisa terlupakan. Hal ini mengingatkanku
pada masa-masa saat aku masih sekolah dasar dahulu.
Masa-masa sekolah dasar mungkin adalah masa yang
terpenting untukku, karena pada saat itu akau mulai belajar hal-hal baru, mulai
bersosialisasi dengan teman-teman yang berasal dari berbagai latar belakang,
dan lain-lainnya. “Kita tidak pernah menyadari betapa pentingngya seseorang
sebelum kita kehilangannya.”, mungkin itu adalah kata-kata yang tepat bagiku
saat ini. Teman-teman dan guru-guru yang dulu mungkin menurutku orang yang
membosankan dan tidak penting. Kini setelah aku kehilangan mereka aku baru
menyadari bahwa mereka sangat berarti. Jika teringat mereka semua, selalu
teringat salah seorang yang bisa dibilang merupakan seseorang yang merubah
diriku. Inilah kisahku bersama beliau dan teman-temanku di sekolah dasar.
Aku merupakan seorang murid sekolah dasar di sebuah
sekolah swasta. Saat di sekolah dasar dahulu aku memiliki seorang guru, namanya
Pak Cahyo. Pak Cahyo merupakan guru saat
aku masih duduk dibangku kelas 3 Sekolah Dasar. Kebetulan beliau adalah wali kelasku.
Hampir setiap hari aku dan teman-temanku diajari oleh beliau. Beliau merupakan
orang yang menyenangkan, pembawaannya yang ramah membuat kami sangat menyayangi
dan menghormati beliau. Inilah ceritaku bersama guru dan teman-temannku.
Hari pertamaku masuk di kelas 3 SD, rasanya menakjubkan.
Atmosfernya sungguh berbeda dengan saat aku berada di kelas 2 SD. Selain itu,
di kelas ini aku mendapat tambahan pelajaran baru yaitu IPA, IPS, dan Bahasa
Inggris. Aneh bukan, mungkin menurut sebagian orang itu aneh. Namun ini lah
sekolahku, aku dan teman-temanku baru mendapatkan 3 pelajaran itu di kelas 3.
Selain itu di kelas 3 ini aku mendapatkan kedatangan seorang guru baru yang nantinya akan
mengajariku dan teman-temannku di kelas. Sempat ada perasaan tak nyaman saat
aku tahu bahwa aku mendapat wali kelas seorang pak guru. Karena sebelumnya aku
merasa mempunyai masalah dengan wali kelas ku di kelas 2 SD yang juga seorang
pak guru. Namun, setelah beberapa saat aku dan teman-temanku diajari oleh
beliau, ternyata beliau berbeda dengan wali kelasku yang sebelumnya.
Hari itu pertama kalinya aku dan teman-temanku berjumpa
dengan beliau, masih teringat samar-samar dikepalaku saat pertama kali beliau
mengajar di sekolahku dengan kemeja berwarna hijau muda dan celana bahan hitam
serta sepatu pantofle hitam beliau melangkah dengan pasti menuju ruang kelas 3
yang berada di lantai 2. Berita kedatangan guru baru memang sudah tersebar di
kelasku, namun tetap saja kami penasaran dengan hal itu. “Assalamu’alaikum..”
sapaan pertama yang kudengar dari beliau saat pertama kali memasuki ruang
kelasku. Seperti layaknya guru yang memasuki kelas baru, beliau memperkenalkan
diri. Kesan pertama yang kami dapatkan sebenarnya biasa saja tidak ada sesuatu
yang membuat beliau berbeda dengan guru-guru yang lainnya. Namun, hari demi
hari disetiap pelajarannya selalu ada hal baru yang beliau berikan untuk
membuat kami semakin belajar dan itu lah yang kami tunggu-tunggu disetiap
pelajarannya.
Suatu hari saat pelajaran matematika, aku dan
teman-temanku mendapat tugas untuk menghafalkan perkalian. Ada hal yang unik
sebelum tugas itu kami laksanakan, yaitu kami harus membuat perjanjian dengan
beliau. Perjanjian itu adalah jika saat menghafal kami salah menyebutkan hasil
sebagai hukumannya beliau akan memukul tangan kami dengan mistar dan kami
menyetujui perjanjian itu. Mungkin menurut sebagian orang perjanjian itu konyol
dan mengandung unsur kekerasan tetapi menurut kami itu merupakan pemacu untuk
kami lebih baik lagi. Lagi pula beliau sudah berjanji untuk tidak memukulnya
terlalu keras, jadi tidak akan membuat tangan kami putus. Sampai saat ini
mistar itulah yang selalu teringat saat aku dan teman-temanku menghafal
perkalian dan hal itu sangat membantu kami mengingat perkalian yang sewaktu SD
pernah aku dan teman-temanku hafalkan.
Keesokan harinya, inilah saat kami hafalan. Saat semua
sudah masuk kelas, semua saling menanyakan bagaimana hasil hafalan satu sama
lain. “Kring... Kring...” bel berbunyi, inilah saatnya kami masuk ke kelas.
Semua sibuk dengan hafalannya masing-masing, aku pun turut sibuk dengan
hafalanku. Komat-kamit seperti mbah dukun, mugkin terlihat seperti itu kami
saat itu. “Prok... prok..”, derap
langkah kaki orang yang kami kenal semakin mendekat. Hati kami mulai deg-degan
ada sebagian yang sampai bercucuran keringat (karena terlalu gugup). “Assalamu’alaikum.”,
kata itu yang selalu disampaikannya saat memasuki kelas. Semua segera duduk
ditempat masing-masing, “Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.” seru
kami menjawab salamnya.
Seperti biasa, sebelum memulai belajar kami berdoa
dahulu. “Memberi salam.” seru ketua kelas kami dengan lantang, “Assalamu’alaikum
warohmatullahi wabarokatuh” jawab kami serentak. “Wa’alaikumussalam
warohmatullahi wabarokatuh”, jawab Pak Cahyo. “Berdoa mulai”, suasana hening
seketika, “Berdoa selesai.”. Selesai berdoa kami segera bersiap-siap untuk
menghafal “Baik, anak-anak! Ayo, siapa yang mau maju terlebih dahulu??”, Pak
Cahyo menyuruh kami untuk maju. Semua terdiam sembari melakukan
tindakan-tindakan aneh seperti tengok kanan- kiri dan ada pula yang menyuruh
teman sebangkunya untuk maju duluan. Mungkin karena jengah melihat tingkah kami
akhirnya Pak Cahyo memutuskan untuk memanggil kami satu per satu sesuai nomor
absen dan aku mendapatkan urutan terakhir. Aku melihat hampir semua mendapat
pukulan dan yang salah lebih dari 10 kali akan berdiri dibelakang kelas, hanya
2 orang yang akhirnya bisa duduk kembali. Sekarang giliranku tiba “huuh...haaa”
tarik nafas panjang. Hafalanku sedikit demi sedikit aku katakan walau berbeda
dengan teman-temanku, aku menghafal bukan dari 1 tetapi dari 10. Hafalanku
Alhamdulillah lancar, tetapi saat sesi tebak-tebakan aku salah menjawab dan aku
mendapatkan penggaris yang mendarat ditanganku walau tak terlalu keras tetapi
cukup sakit. Namun, aku diperbolehkan untuk duduk. Sesi untuk menghafal kini telah selesai. Lega
rasanya bisa menghafal dengan lancar. Tak beberapa lama teman-temannku yang
berdiri di belakang diperbolehkan untuk duduk kembali. Pelajaran selanjutnya
dimulai.
Terkadang sering terbersit dipikiranku betapa mulianya
hati beliau. Guru yang rela mengajari kami dengan sepenuh hati, walau aku tahu
upah yang didapatkannya tak sebesar pengorbanannya karena beliau hanyalah
seorang guru honorer yang mengabdi demi mencerdaskan generasi-generasi pemimpin
bangsa. Mungkin inilah yang dinamakan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Beliau
adalah guru yang sangat rajin menurutku. Hampir setiap hari beliau datang lebih
dahulu, padahal rumah beliau jauh dari sekolah. Terlabih lagi, bukan dengan
motor beliau menyambangi sekolah, tetapi dengan mengayuh sepeda jengki yang
sudah termakan usia beliau berangkat dari rumah. Pak Cahyo pernah bercerita
kepada kami bahwa setiap hari beliau berangkat setelah sholat subuh. Kami tahu
beliau menceritakan itu semua untuk memotivasi kami agar kami tidak telat
berangkat sekolah dan lebih menghargai waktu.
Guru yang taat beribadah itu lah beliau. Setiap waktu
istirahat beliau menyempatkan diri untuk sholat dhuha. Selain itu, hampir
setiap Senin dan Kamis beliau berpuasa. Aku sendiri tidak bisa membayangkan
bagaimana lelahnya beliau saat harus berpuasa dan mengayuh sepeda dengan jarak
sekitar 8 km dipayungi mentari yang bersinar dengan teriknya.
“Kring.. Kring.. Kring.. ”, lamunanku terpecahkan oleh
bunyi bel pulang. Kini saatnya aku dan teman-temanku pulang. Semua membereskan
perlengkapannya, memasukkan buku dan benda lain ke dalam tas masing-masing.
“Bersiap..Berdoa mulai .” seru ketua kelas, sejenak kelas menjadi hening.
“Memberi salam..” “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.”, seru kami
semua. Pak Cahyo pun menjawab “Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh.”.
Sebelum pulang kami bersalaman kepada Pak Cahyo dan seperti biasa saat kami
bersalaman dengan beliau, beliau mengusap-ngusap kepala kami sembari mengatakan
“Nak, maafkan bapak yaa..” jujur kata-kata itu membuat kami merasa beliau
sebagai orang tua ke dua bagi kami dan kata-kata itu lah yang sampai saat ini
tak bisa aku lupakan.
Keesokan
harinya, Alhamdulillah karena kemarin kami tidak mendapat PR kebiasaan mengecek
PR sebelum masuk dengan teman-teman untuk hari ini tidak kami laksanakan. Seperti
biasanya sebelum dimulai pelajaran kami membaca doa terlebih dahulu. Namun,
seperti ada yang aneh pada pak guru kami, raut wajahnya seperti sedang tidak
sehat saat menjawab salam kami pun tak selantang biasanya. Ternyata Pak Cahyo
sedang sakit, suaranya serak. Namun, dalam keadaan sakit beliau tetap saja
mengajari kami dengan semangat. Jujur, aku sangat sedih melihat guruku yang
biasanya terlihat ceria dan tegas terlihat lemah. “Pak,maafkan kami karena kami
sering menyusahkan bapak.” dalam hati ku berkata.
Hari
itu, kelas kami sedikit tenang karena kami menghormati Pak Cahyo yang sedang
sakit. Mambosankan, suasana ini sedikit membosankan. Biasanya kelas kami selalu
ramai. Padahal saat ini sedang pelajaran matematika, entah mengapa pelajaran Matematika
dan IPA merupakan pelajaran paling mengasyikkan untukku dan teman-temannku apa
karena Pak Cahyo yang mengajar atau bagaimana, entahlah kami sendiripun kurang
mengerti dengan hal itu. Pak Cahyo selalu punya cara tersendiri untuk membuat
kami senang dengan pelajaran yang sedang kami pelajari, selain itu beliau
sering menyelipakan kata-kata motivasi saat beliau sedang mengajar kami. Itu
merupakan nilai tambah yang dimiliki beliau saat mengajar kami. Kurang lebih 1
tahun Pak Cahyo menajar untuk kami. Namun, berbeda untuk kali ini kami tak
seramai biasanya.
Kini
tiba saatnya kenaikan kelas. “Asyik..” kini aku dan teman-temanku naik kelas ke
4. Untuk kenaikan kelas ini sekaligus perpisahan kelas 6 kebetulan sekolahku
mengadakan studytour ke Cimelati salah satu tempat rekreasi di daerah Bogor,
Jawa Barat. Saat itu kami belum mengetahui bahwa itu adalah terakhir kalinya
aku dan teman-temanku bertemu dengan Pak Cahyo. Saat itu juara 1 sampai 3 di
kelas ku mendapat hadiah darinya, walaupun hanya alat tulis tapi buatku itu
berharga. Saat di Cimelati, kami semua melepaskan semua penat kami yang telah
tekumpul selama berbulan-bulan di Jakarta. Menikmati udara yang sejuk dan
menceburkan diri ke kolam renang. Seru sekali..!!! Tiba saatnya untuk kembali
ke Jakarta, melepaskan semua keseruan yang kami nikmati di Cimelati. Walaupun
rasa lelah mendera tubuh kami, tetapi ami senang dan menikmati semuanya.
Setelah
liburan kurang labih 2 minggu, kini tiba saatnya masuk sekolah kembali. Rasanya
rindu sekali dengan teman-temanku. Kami sempat heran, karena sosok yang
biasanya mengajari kami di kelas 3 tidak terlihat lagi. Memang sebelumnya telah
beredar gosip bahwa Pak Cahyo akan pindah dari sekolah kami. Aku pun tahu itu,
aku tahu kabar itu dari ayahku kebetulan ayahku bekerja di sekolahku juga.
Selain itu, ayahku juga cukup mengenal Pak Cahyo. Kami sempat bingung dan
bertanya-tanya kemanakan Pak Cahyo..??? Saat kami sedang di kelas ada guru
pengganti bagi Pak Cahyo dan guru itu mengabarkan bahwa guru kami itu sudah
tidak mengajar di sekolah kami lagi. Beliau sekarang bekerja di sebuah
perusaahan terkemuka. Sungguh hal itu membut kami terkejut. Aku dan
teman-temanku merasa sangat kehilangannya, sedih lah yang aku dan teman-temanku
rasakan. Kami meminta nomer telepon beliau dan sepulang sekolah ada salah
seorang temanku Kiran namanya menelpon Pak Cahyo dan mengonfirmasikan hal itu. Ternyata
benar saja Pak Cahyo tak akan kembali lagi ke sekolah kami. Sungguh hal itu
membuat kami sangat bersedih. Guru yang kami banggakan, yang sering mengetes
perkalian kami kini tak mengajar kami lagi. Pada sat yang sama aku dan
teman-temanku harus kehilangan salah seorang teman di antar kami. Dia pindah, mungkin
bagi sebagian orang hanya pindah kenapa harus sedih. Kepindahannya memang tak
terlalu membuat kami sedih namun kepergiannya ke Lampung untuk meneruskan
pendidikan disana dan tinggal bersama orang tuanya itu lah yang membuat kami
sedih. Lampung bukan tempat yang dekat bahkan berbeda pulau dengan kami semua.
Satu pelajaran yang dapat aku ambil adalah tidak ada yangabadi, setiap
pertemuan pasti akan ada perpisahan cepat atau lembat semua akan terjadi.
Kira-kira
sudah sekitar 10 tahun aku dan teman-temanku tak bertemu dengannya. Namun,
sampai saat ini aku dan teman-temanku tidak pernah tahu bagaimana keadaannya
sekarang. Nomer yang dulu diberikan juga entah menghilang kemana. Hingga sampai
saat ini kami tidak bisa melupakan kebaikannya. Kini tidak akan ada lagi yang
mengatakan “Nak, maafkan bapak yaa..!!” dan mengelus kepala kami sebelum kami
pulang sekolah. Ada yang aku sesalkan saat kepergiannya yaitu aku belum sempat
meminta maaf atas semua kesalahan yang mungkin aku lakukan saat beliau
mengajariku.
Ingatanku
kembali tenggelam kedalam masa-masa saat acara perpisahan kelas 6 SD. Saat itu
akau dan teman-temanku menyanyikan satu lagu. Lagu ini merupakan lagu sederhana
namun kaya makna. Lagu itu adalah “Terima kasih guru”, saat menyanyikan lagu
itu tiba-tiba air mata berjatuhan bak berlian. Tangis haru memecah suasana.
Enatah apa yang sebenarnya terjadi saat itu, pikiran kami semua melayang
menjelajahi ruang-ruang masa lalu dimulai sejak pertama kali memulai karier
kami sebagai seorang siswa hingga lulus pada tingkat pertama. Banyak sekali
kenangan indah yang tak terlupakan begitu juga kenangan bersama guru kami Pak
Cahyo. “Salam hormat kami untuk anda,pak.”.
Sampai
sekarang aku belum bisa menemukan sosok seperti beliau. Belum ada yang bisa
menggantikan sosok yang begitu sabar mengajari murid-muridnya dan meminta maaf
walaupun tak pernah melakukan kesalahan. Aku tahu semua guru mengharapkan yang
terbaik untuk murid-muridnya dan mereka memiliki cara yang berbeda-beda untuk
mewujudkannya. Mungkin terkadang kita tidak menyadarinya tatapi yakinlah tidak
ada satupun guru di dunia ini yang ingin menjerumuskan muridnya ke dalam lubang
kegagalan. Mungkin mereka sering marah tetapi itu semua mereka lakukan untuk
kebaikan kita juga.
Terkadang
saat aku tengah belajar dikelas, aku merindukan masa-masaku saat di sekolah
dasar dulu. Terlebih lagi kata-kata yang sering diucapakan oleh Pak Cahyo.
“Nak, maafkan bapak ya.”, kata ini lah yang sangat aku rindukan. Karena
kata-kata ini menurutku sangat meneduhkan dan membuat segala dendam yang
mungkin tak sengaja tertanam saat belajar itu hilang.
Jika
memang suatu saat Allah memberikanku kesempatan untuk bertemu dengan beliau,
hanya beberapa kata yang ingin ku ucapkan yaitu “Maafkan kami juga ya,pak.” dan
juga ucapan terima kasih untuk semuanya terlebih lagi mistarnya sehingga sampai
saat ini perkalian itu masih menempel didalam otakku, “Mistar anda adalah
senjata ampuh untuk kami.”. Sepertinya karena mistar itu kami terpacu untuk
menghafal dan hafalan itu sangat berguna hingga saat ini. Nah, itulah sekilas
ceritaku saat aku masih duduk di sekolah dasar atau biasa kita sebut SD.
Mungkin sekolah dasar merupakan jenjang yang sering kali mudah kita lupakan,
padahal dimasa itulah kita benar-benar belajar mengenal segalanya. Dimasa
itulah kita mengenal angka, huruf, mengenal bayak teman, bersosialisasi,
menghargai orang lain, dan lain-lain. Eitss, bukan berarti jenjang yang lain
itu tak sepenting sekolah dasar yaa..!! Semua tahapan atau jenjang sekolah itu
sangat penting dan semua mengajarkan kebaikan, jadi kita harus selalu
menghormati guru dan sayang kepada guru kita karena merekalah yang mengajarkan
hal-hal baru yang mungkin tidak kita dapatkan di rumah.
Comments
Post a Comment