Resume Buku API SEJARAH 1




Judul Buku : Api Sejarah Jilid 1
Pengarang : Ahmad Mansur Suryanegara
Tahun Terbit : Cetakan I, Edisi Revisi Tahun 2014
Penerbit : Suryadinasti



“Perhatikan sejarahmu untuk hari esokmu”

(QS: Al Hasyr : 18) : “Wahai  orang orang yang beriman ! bertaqwalah kepada Allah dan perhatikanlah sejarahmu untuk hari esokmu. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Dia Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”.

Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, yang berarti "penyelidikan, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian”) adalah studi tentang masa lalu, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Dalam bahasa Indonesia sejarah babad, hikayat, riwayat, atau tambo dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah (Wikipedia.com).

Menilik pada makna secara kebahasaan dari berbagai bahasa di atas dapat ditegaskan bahwa pengertian sejarah menyangkut dengan waktu dan peristiwa. Oleh karena itu masalah waktu penting dalam memahami satu peristiwa, maka para sejarawan cenderung mengatasi masalah ini dengan membuat periodisasi.

Sejarah penting sebagai warisan leluhur terdahulu. Maka dari itu, perlu memerhatikan sejarah dalam bentuk tulisan. Dengan mengetahui sejarah, tentunya kita bisa belajar dari peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh masa lampau. Sejarah dapat menjadi satu tolak ukur kemajuan bangsa kedepannya.

Banyak karya sejarah Islam Indonesia dan dunia Islam umumnya, yang beredar disekitar kita. Namun, banyak pula yang isinya sangat bertentangan dengan apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah SAW, sahabat, khalifah, ulama, santri serta umat islam. Pendistorsian sejarah ini dilakukan untuk menutup-nutupi perjuangan ulama dan santri sebagai pelopor pembangkit kesadaran nasional dalam upaya deislamisasi Sejarah Indonesia.
Seperti halnya waktu Islam masuk pertama kali ke Indonesia yang semestinya masuk pada abad ke 7 M dimundurkan penulisannya menjadi abad ke 13 M. Orientalis menganggap kehadiran islam di Indonesia mendatangkan perpecahan. Kekuasaan kesultanan islam yang menyebar di seluru penjuru nusantara, menyulitkan imperialis barat untuk menguasai politik nusantara. Sebaliknya, kerajaan Hindu-Budha justru ditafsirkan mengalami masa kejayaan oleh bangsa Indonesia pada masa itu. Interpretasi tersebut yang mendiskredit islam dalam sejarah Indonesia.

Buku “Api Sejarah” hadir untuk menguak peristiwa-peristiwa bersejarah di masa lalu yang telah banyak mengalami pendistorsian dari berbagai pihak. Buku ini juga mengungkapkan perjuangan keras dari ulama dan santri dalam memprakarsai kemerdekaan NKRI yang disembunyi-sembunyikan oleh kaum orientalis dan imperialis barat terdahulu.

Kebangkitan Islam dan Pengaruhnya ke Indonesia

Islam masuk ke nusantara Indonesia melalui gerbang pasar. Ajaran islam dikenalkan oleh para pedagang atau wirausahawan sebagai juru dakwah. Setelah itu perkembangan dan penyebaran islam menjadi begitu pesat di Indonesia meskipun wilayah Indonesia berbentuk Negara kepulauan. Setiap muslim yang merasa terpanggil kesadaran agamanya, berdakwah dan menyebarkan islam sesuai dengan metode yang sejalan dengan profesinya.

Rasulullah SAW menjadi panutan sebagai pemimpin terbaik dalam berdakwah menyebarkan islam demi tegaknya kalimat tauhid. Agama Islam yang telah diwahyukan oleh Allah kepadanya merupakan suatu ajaran yang menjadi kabar gembira untuk seluruh manusia di dunia, sebagai rahmatan lil’alamin. Al qur’an dan sunnahnya menjadi pedoman hidup dan bekal umat dalam menjalani kehidupan di dunia.

Islam berpengaruh besar dalam sejarah Indonesia. Tampak jelas ketika imperialis barat hadir untuk menjajah negeri ini, Islam dijadikan sebagai lambang kekuatan dan persatuan rakyat dalam menghadapi penjajah.

Masuk dan Pengembangan Agama Islam di Nusantara Indonesia

Masuknya agama Islam ke nusantara Indonesia cukup sukar dipastikan. Wilayah mana yang lebih dulu dimasuki paling awal. Nusantara Indonesia yang sangat luas dan berposisi geografis terletak di persimpangan jalan laut niaga antara Arabia, India dan Cina. Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang awal masuknya agama islam ke nusantara Indonesia, antara lain : teori Gujarat, teori makkah, teori Persia, teori Cina.

Masuknya agama Islam adalah ketika agama Islam baru dikenal oleh bangsa Indonesia dikenalkan oleh para niagawan muslim pada saat melakukan transaksi niaga di pasar. Perkembangan agama Islam adalah pada saat umat Islam telah membangun kekuasaan politik Islam atau kesultanan.

Masuknya Islam yang dibawa oleh para pedagang dan wirausahawan  Arab, India, dan juga China tidak pernah dilakukan dengan jalan invasi militer, sekalipun laksamana Cheng Ho datang dengan jumlah pasukan yang cukup besar.
Perlu diketahui, terdapat dongeng dongeng yang menceritakan keruntuhan kerajaan Hindu yang dihancurkan oleh Kesultanan Islam. Penuturan demikian bertujuan untuk membentuk citra negative generasi muda bangsa Indonesia terhadap Islam dan metode colonial Belanda dalam menjalankan politik divide and rule (pecah belah) melalui penulisan sejarah.

Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperialisme Barat  

Rasulullah SAW sebagai pemimpin terbaik telah menyadarkan umatnya dengan memberikan contoh bagaimana mempertajam eksistensi ajaran islam dalam menjawab tantangan dan serangan lawan. Sepeninggal Rasulullah SAW, basis masyarakat Islam berlanjut ke nusantara Indonesia. Kemudian stratifikasi masyarakat muncul dari lembaga pendidikan atau pesantren.

Pesantren tidak hanya sebagai arena atau tempat melahirkan ulama, tapi juga sebagai kancah pembinaan pemimpin bangsa. Pesantren sebagai penjenang calon pemimpin. Pemimpin yang berkemampuan membangkitkan kesadaran cinta tanah air, bangsa, dan agama serta kemerdekaan. Oleh karena itu, tidak heran jika kehadiran pesantren berfungsi sebagai tempat pengkaderan pemimpin bangsa.

Perlawanan demi perlawanan pun muncul demi menghadapi imperialis barat yang hendak menguasai nusantara dan memperbudak pribumi. Patriotisme islam muncul dan menghadirkan tokoh tokoh islam sebagai pelopor pergerakan di setiap daerah di nusantara Indonesia. Dengan pengertian dibangkitkan kesadaran rasa satu bangsa, satu nusa dengan semangat membela Islam yang tertindas oleh politik kristenisasi. Ulama dan santri dengan menggunakan bahasa Indonesia untuk membangkitkan aspirasi juangnya membangun Indonesia merdeka.

Peran Ulama Dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional

Kondisi penjajahan dan penindasan yang telah dilakukan oleh barat melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau nasionalisme, sedangkan imperialism atau penjajahan itu identik dengan kristenisasi. Oleh karena itu, Islam menjadi symbol nasionalisme bangsa Indonesia pada saat itu.


Di nusantara Indonesia setiap bentuk penindasan terhadap umat Islam, membangkitkan ulama dan santri untuk memberikan jawaban sesuai dengan tantangan zamannya. Dalam waktu relative singkat, ulama berhasil membangkitkan berbagai organisasi kerakyatan yang memiliki karakter nasionalistis. Artinya, suatu organisasi yang membina anggotanya untuk memiliki kesadaran cinta tanah air, bangsa dan agamanya. Hal ini membangkitkan kesadaran adanya kesamaan musuh yakni pemerintah colonial Belanda dan kerajaan protestan Belanda sebagai penjajah. Kesadaran tersebut diarahkan untuk merebut kembali kedaulatan bangsa dan Negara serta agama. Organisasi organisasi yang benar benar memiliki basis massa rakyat pada saat itu, antara lain : Sjarikat Islam, Persjarikatan Moehammadijah, NU, Persatoean Oemat Islam, dll.


Resumer by UKhasan aka Uswatun Khasanah

PK KAMMI Al-Quds Universitas Sriwijaya

Comments

Popular posts from this blog

Nano-nano Kuliahku (Masa Melatih Diri Bersama Orang Baru)

Jeruk Nipis

Apakah Indonesia Sudah Merdeka?